Kisah di balik Hello Nabu

Misi kami

Hambatan bahasa membuat perusahaan rugi miliaran akibat salah komunikasi, insiden keselamatan, dan peluang yang terlewat. Kursus bahasa tradisional mengajarkan tata bahasa dan kosakata secara terpisah, tapi di lokasi konstruksi, bangsal rumah sakit, atau saat panggilan klien, orang butuh kata dan frasa spesifik yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Kami membangun Hello Nabu untuk menutup celah itu: latihan bertenaga AI dalam konteks bahasa yang persis dihadapi timmu setiap hari, dengan pelacakan selaras CEFR agar kamu bisa membuktikan dampaknya ke bagian keuangan.

Hello Nabu menggabungkan tutor AI percakapan, umpan balik pengucapan real-time, dan jalur belajar adaptif yang disesuaikan dengan peran dan level setiap pembelajar. Baik kamu operator gudang yang belajar kosakata keselamatan atau eksekutif yang bersiap untuk rapat dewan internasional, setiap sesi dibangun di sekitar skenario yang mencerminkan hari kerjamu yang sesungguhnya.

Apa yang kami yakini

  • Relevansi di atas kuantitas

    Kami melatih orang dalam bahasa yang benar-benar mereka butuhkan, bukan konten buku teks umum. Koordinator logistik berlatih formulir bea cukai; perawat berlatih serah terima pasien. Setiap skenario dibangun untuk pekerjaan nyata.

  • Hasil yang terukur

    Pelacakan progres selaras CEFR agar kamu tahu persis posisi timmu. Dasbor kami menampilkan data individu dan tim, mulai dari skor pengucapan hingga penguasaan kosakata per topik.

  • Temui pembelajar di mana pun mereka berada

    Pembelajaran harus menyesuaikan dengan orang, bukan sebaliknya. Hello Nabu terintegrasi dengan alat yang sudah digunakan tim, seperti Slack, Microsoft Teams, ponsel, dan web, dengan sesi singkat yang pas di antara shift, rapat, atau perjalanan. Tidak perlu masuk ke platform terpisah, tidak perlu meluangkan satu jam khusus.

Kenali para pendiri

Henri Falque-Pierrotin

Co-Founder & CEO

Henri berbicara bahasa Prancis, Inggris, Spanyol, dan Jerman. Dia tidak belajar bahasa-bahasa itu dari buku teks. Dia mempelajarinya karena dia membutuhkannya. Pengalaman itu membentuk sebuah keyakinan: belajar bahasa bukan hanya soal bisa dimengerti. Itu soal menjadi fasih berbicara. Kefasihan bukan kata-kata rumit atau tata bahasa sempurna. Itu adalah kemampuan mengungkapkan gagasan dengan jelas, meyakinkan, dan berdampak. Membuat makna benar-benar tersampaikan. Di dunia yang penuh kebisingan, itulah yang menonjol. Berbeda dari kelancaran, ini bukan sekadar bicara dengan benar. Berbeda dari kepercayaan diri, ini bukan sekadar bicara dengan lantang. Hello Nabu ada karena Henri percaya setiap pembelajar pantas mencapai level itu, bukan suatu hari nanti, tapi dalam percakapan yang sudah mereka jalani di tempat kerja.

Anatole Gaigneux

Co-Founder & CTO

Anatole menghabiskan tujuh tahun membangun perangkat lunak untuk organisasi internasional besar. Dia melihat pola yang sama di mana-mana: ketidaksesuaian komunikasi antara tim lokal dan kantor pusat yang menyebabkan pekerjaan ulang, memperlambat pengiriman, dan mengikis kepercayaan. Akar masalahnya jarang bersifat teknis. Itu bersifat linguistik. Orang punya keterampilan tapi tidak punya kata-kata untuk menggunakannya lintas negara. Frustrasi itulah yang mendorong rekayasa Hello Nabu. Anatole tidak menebak-nebak masalahnya; dia mengalaminya sendiri. Dia membangun tutor AI, pipeline pengenalan suara, dan sistem pembelajaran adaptif dengan satu tujuan: memberi orang bahasa spesifik yang mereka butuhkan agar pekerjaan berjalan lebih cepat dan tidak ada yang hilang dalam terjemahan.

Dibangun untuk tim nyata

Hello Nabu dirancang untuk organisasi tempat celah bahasa memiliki konsekuensi operasional nyata. Bukan sekadar ketidaknyamanan, tapi risiko keselamatan, kehilangan kesepakatan, dan pengiriman yang lebih lambat.

Siap untuk mulai?

Gratis untuk pembelajar individu. Pesan demo untuk melihat bagaimana Hello Nabu melatih timmu.

Hubungi kami